Pembalut Kain Tradisi Sahabiyah Nabi, Ini Buktinya

sejarah pembalut kain

Merunut sejarah pembalut, wanita haid sudah menggunakan pembalut sejak awal abad ke-10. Di masa itu seorang ahli matematika wanita dari Yunani, Hypatia, diketahui melemparkan salah satu kainnya yang digunakan untuk melindungi diri dari darah haid. Ia melemparkan kain ini kepada orang-orang dalam upaya mencegah pengagumnya mengejarnya.

Saat itu kaum wanita menggunakan potongan kain bekas yang dilipat-lipat. Hal inilah yang menyebabkan mengapa akhirnya periode datang bulan juga dikenal sebagai periode on the rag (lipatan kain).

Selama masa haid, perempuan tempo dulu selalu mencuci kain-kain pembalutnya agar bisa dipakai kembali. Bahan lainnya yang sering digunakan; lilitan potongan-potongan kecil kulit kayu atau bahan lain seperti olahan lumut, kulit binatang dan rumput.

Bukti sejarah pembalut kain paling otentik diketahui di zaman Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam. Para wanita sahabiyah Nabi memanfaatkan kain sebagai pembalut saat haid. Kadang hanya menggunakan kapas dan kadang kain yang dilapisi kapas.

Sahabiyah radhiyallahu anhum ajmain dikenal disiplin memelihara kebersihan. Mereka memiliki kain khusus yang digunakan sebagai pembalut. Pembalut kain itu mereka cuci setelah terkena kotoran darah haid lalu dijemur untuk dipakai ulang.

Saat pembalut kain sudah lusuh dan tidak berfungsi dengan baik, dibuang. Tentu setelah kotorannya dibersihkan dengan air. Membuat lingkungan di Madinah Al-Munawarah sangat bersih dan sehat. Fakta ini dijelaskan dalam beberapa hadits dengan derajat shahih.

Saya mengumpulkan hadits-hadits tersebut sebagai berikut:

1. Hadits Ummu Salamah Radhiyallahu anha

Hadits ini disebutkan oleh Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Bab Haid dan disebutkan pula oleh Imam Muslim di Bab Haid.

بَيْنَمَا أَنَا مُضْطَجِعَةٌ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَمِيلَةِ إِذْ حِضْتُ, فَانْسَلَلْتُ فَأَخَذْتُ ثِيَابَ حِيضَتِي. فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَفِسْتِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. فَدَعَانِي فَاضْطَجَعْتُ مَعَهُ فِي الْخَمِيلَةِ

Dari Ummu Salamah, berkata, “Saat aku berbaring bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam satu selimut, tiba-tiba aku haid. Lantas aku keluar secara perlahan-lahan untuk mengambil baju khusus untuk haid. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepadaku, “Apakah kamu sedang nifas (haid)?” Aku menjawab, “Ya.” Lalu beliau memanggilku, lalu aku berbaring lagi bersama beliau dalam satu selimut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits mulia dari Ibunda Ummu Salamah radhiyallahu anha mengatakan:

فَأَخَذْتُ ثِيَابَ حِيضَتِي

Terjamahkan secara bahasa yaitu; maka aku mengambil baju haid milikku.

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalany dalam Kitabnya Fathul Bary menjelaskan maksud maka aku mengambil baju haid milikku yaitu aku mengambil baju khusus yang aku pakai pada saat haid atau aku mengambil baju yang aku persiapkan khusus dipakai saat haid.

Ada kebiasaan diantara para sahabiyah menyiapakan baju khusus untuk haid. Disamping baju itu sudah ada pembalut kain yang diistilahkan dengan izar atau farash.

izar adalah kain yang dililitkan dari perut hingga paha. farash lebih menyerupai pembalut kain modern karena bentuknya berupa kain memanjang yang ditutupkan pada kemaluan. Biasanya di dalam farash ditambahkan lagi kapas.

2. Hadits Aisyah radhiyallahu anha

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : سَأَلَتِ امْرَأَةٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . كَيْفَ تَغْتَسِلُ مِنْ حَيْضَتِهَا ؟ قَالَ : فَذَكَرَتْ أَنَّهُ عَلَّمَهَا كَيْفَ تَغْتَسِلُ . ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مِنْ مِسْكٍ فَتَطَهَّرُ بِهَا . قَالَتْ : كَيْفَ أَتَطَهَّرُ بِهَا ؟ قَالَ : تَطَهَّرِي بِهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَاسْتَتَرَ - وَأَشَارَ لَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ بِيَدِهِ عَلَى وَجْهِهِ - قَالَ : قَالَتْ عَائِشَةُ : وَاجْتَذَبْتُهَا إِلَيَّ وَعَرَفْتُ مَا أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . فَقُلْتُ : تَتَبَّعِي بِهَا أَثَرَ الدَّمِ

Dari Ibunda Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Seorang wanita dari anshar bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang cara dia mandi dari haid. Beliau lalu memerintahkan kepadanya bagaimana ia mandi. Beliau bersabda, ‘Ambillah pembalut kain yang diberi kasturi lalu bersucilah kamu dengannya.’ Wanita itu bertanya kembali, ‘Bagaimana aku bersuci dengannya?’ Beliau bersabda sembari berlindung dibalik satr (pembatas/gorden), ‘Mahasuci Allah, bersucilah!’ Sufyan bin Uyainah memberikan isyarat pada kami dengan tangannya yang ia letakkan di wajah (maksudnya Nabi merasa malu). Aisyah berkata, “Aku mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka aku menariknya ke arahku, lalu aku katakan, ‘Telusurilah dengan minyak harum pada bekas darah.’” (HR. Bukhari)

Pembalut kain biasa digunakan oleh sahabiyah diketahui dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

ثُمَّ تَأْخُذُفِرْصَةً

”Ambillah pembalut kain.”

Dalam kamus Al-Ma’any, firshah bentuk jamak dari farash artinya kain yang bentuknya panjang. Inilah pembalut kain yang telah saya jelaskan diatas.

3. Hadits Aisyah radhiyallahu anha

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ، صلى الله عليه وسلم مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ، كِلاَنَا جُنُبٌ‏.‏ وَكَانَ يَأْمُرُنِي فَأَتَّزِرُ، فَيُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ

Dari Ibunda Aisyah, ia berkata, “Aku dan Nabi pernah mandi bersama dari satu bejana. Saat itu kami berdua sedang junub. Beliau juga pernah memerintahkan aku mengenakan izar, lalu beliau mencumbuiku sementara aku sedang haid.” (HR. Bukhari)

4. Hadits Aisyah radhiyallahu anha

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا، فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُبَاشِرَهَا، أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ فِي فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا‏

Aisyah berkata, “Salah seorang di antara kami apabila haid dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam ingin mencumbuinya, beliau menyuruhnya untuk menggunakan izar pada saat haidnya, kemudian beliau memeluknya”. (HR. Bukhari)

5. Hadits Ibunda Maimunah

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُبَاشِرَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ أَمَرَهَا فَاتَّزَرَتْ وَهِيَ حَائِضٌ

”Jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ingin mencumbu salah seorang dari isterinya, beliau memerintahkannya untuk mengenakan izar. Maka ia pun mengenakan izar, sementara ia sedang haid.” (HR. Bukhari)

Al-Imam As-Shan’ani penulis kitab Subulus Salam mengatakan dengan mengutip ucapan Al-Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim : “Wanita istihadlah apabila hendak shalat ia diperintah untuk berhati-hati dalam menjaga kebersihan dari hadats dan najis, maka seharusnya ia mencuci kemaluannya sebelum wudhu dan tayammum dan ia letakkan kapas atau kain di kemaluannya untuk mencegah menyebarnya najis dan mengurangi keluarnya darah. Apabila darah tidak tertahankan dengan cara tersebut, ia ikat kemaluannya dengan kain dengan sekuatnya.” (Subulus Salam 1/157)

Artikel Terkait