Hukum Haid dan Nifas di Bulan Ramadhan

haid di bulan ramadhan

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Salawat serta salam kita haturkan pada Rasulullah Muhammad bin Abdullah, keluarga, sahabatnya dan siapapun yang mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat.

Saudariku muslimah.

Artikel dihadapan anda ini mengupas secara ringkas hukum haid dan nifas dalam bulan ramadhan dalam bentuk tanya jawab yang diampu oleh Syeikh Ibnu Utsaimin mufti kerajaan Arab Saudi yang telah diterjemahkan oleh Tim kainshofy.com

Ebook ini saya ekstrak dari buku asal yang aslinya mencakup berbagai persoalan sehari-hari dalam shalat, haji dan umrah dan puasa. Saya kumpulkan pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan puasa ramadhan dan saya pisah dari pertanyaan topik di luar itu. Hasilnya, inilah ebook dihadapan anda.

Jika anda ingin membaca seluruh pembahasan lengkap mengenai hukum haid dan nifas dalam puasa, shalat, haji dan umrah bisa menuju tautan berikut:

http://kainshofy.com/ebook-store/60-pertanyaan-dan-jawaban-hukum-haid-dan-nifas

Daftar Isi

Status Puasa Wanita yang Suci Setelah Fajar

Hukum Puasa Saat Suci di Waktu Subuh

Hukum Puasa dan Shalat Wanita yang Selesai Nifas Sebelum 40 Hari

Hukum Darah Ringan yang Keluar Selama Ramadhan

Status Puasa Jika Mandi Besar Dilakukan Setelah Terbit Fajar

Hukum Puasa Saat Merasa Haid Hendak Keluar

Melihat Darah di Siang Ramadhan Tapi Tidak Yakin Darah Haid

Hukum Flek Saat Puasa

Makan Minum Bagi Wanita Haid dan Nifas di Siang Ramadhan

Hukum Puasa Wanita Keguguran

Hukum Puasa Wanita Hamil Keluar Darah

Hukum Mengganti Puasa Setelah Lewat Ramadhan Berikut

Kewajiban Bagi Wanita yang Terlambat Mengganti Hutang Puasa

Hukum Puasa dan Shalat Saat Keluar Darah Satu atau Dua Hari Sebelum Melahirkan

Keguguran Saat Puasa, Apakah Membatalkan Atau Meneruskan Puasa

Lupa Jumlah Hutang Puasa

Hukum Puasa Wanita yang Mengalami Pendarahan

Status Puasa Wanita yang Suci Setelah Fajar

Wanita langsung suci setelah fajar, apakah ia harus menahan diri dan berpuasa pada hari itu? Apakah puasanya pada hari itu sah atau dia tetap harus mengganti?

Jawaban

Terdapat dua pendapat ulama mengenai wanita yang suci setelah terbit fajar:

Pendapat pertama Wanita tersebut harus berpuasa dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa pada sisa hari tersebut. Tetapi puasanya tidak diberi pahala dan ia wajib mengganti. Pendapat ini terkenal dari kalangan mazhab Imam Ahmad rahimahullah.

Pendapat kedua Dia tidak perlu berpuasa di sisa hari itu. Sebabnya, tidak sah baginya berpuasa pada hari tersebut. Ia mengawali hari dalam keadaan haid dan tidak termasuk orang-orang yang boleh berpuasa. Bila puasanya tidak sah maka tidak ada faedah menahan diri dari pembatal puasa.

Hari tersebut adalah waktu yang tidak terhormat baginya atas haidnya. Karena dia telah diperintahkan untuk berbuka diawal hari maka artinya pada saat itu juga dia diharamkan berpuasa.

Definisi puasa sesuai syariat adalah: menahan diri dari segala perkara yang dapat membatalkan puasa dengan tujuan ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala, dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenam matahari.

Pendapat kedua seperti yang anda perhatikan lebih kuat dari pendapat pertama. Persamaannya, kedua pendapat sepakat mengharuskan mengganti puasa wanita yang bersih suci setelah fajar.

Hukum Puasa Saat Suci di Waktu Subuh

Perempuan suci haid setelah masuk waktu shalat subuh lalu ia mandi besar kemudian ia shalat subuh dan menyempurnakan puasa pada hari itu. Apakah ia wajib mengganti?

Jawaban

Jika ia yakin telah suci sebelum terbitnya fajar meskipun hanya kurang satu menit sebelum fajar di bulan ramadhan, ia wajib puasa. Puasanya sah dan tidak ada tuntutan mengganti. Karena ia berpuasa dalam keadaan suci walau mandi besar setelah terbit matahari, hal ini tidak mengapa.

Kasus ini seperti laki-laki junub karena jimak atau mimpi basah kemudian ia sahur tanpa mandi besar terlebih dahulu. Ia baru mandi setelah terbit fajar, maka puasanya sah.

Pada kesempatan ini saya ingin menambahkan persoalan lain yang dianggap oleh banyak perempuan, yaitu tentang haid yang datang setelah waktu berbuka. Banyak yang menyangka bila haid datang setelah berbuka puasanya rusak. Anggapan ini tidak ada dalilnya, yang benar bila haid datang sejenak setelah waktu berbuka puasanya sah.

Hukum Puasa dan Shalat Wanita yang Selesai Nifas Sebelum 40 Hari

Apakah wajib bagi wanita nifas berpuasa dan shalat jika ia suci padahal belum 40 hari?

Jawaban

Benar, bilamana ia telah suci sebelum 40 hari wajib berpuasa di bulan ramadhan. Dia juga wajib shalat, boleh digauli suaminya karena ia telah suci.

Atas sucinya tidak ada yang menghalanginya dari kewajiban puasa, melaksanakan shalat dan berjimak.

Hukum Darah Ringan yang Keluar Selama Ramadhan

Saat siang di bulan ramadhan, wanita keluar darah ringan yang berlanjut sampai akhir bulan ramadhan dan ia terus berpuasa. Apakah puasanya sah?

Jawaban

Iya puasanya sah. Sedangkan tetesan darah tersebut tidak dipermasalahkan karena akibat dari suatu luka pendarahan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu pernah berfatwa, “Darah yang mirip dengan mimisan ini bukan haid”. Demikian riwayat dari beliau.

Status Puasa Jika Mandi Besar Dilakukan Setelah Terbit Fajar

Apakah sah puasa wanita yang suci dari haid atau nifas sebelum fajar tapi mandinya setelah terbit fajar?

Jawaban

Iya sah puasanya. Wanita yang telah suci haid atau nifas sebelum fajar lalu mandi setelah fajar puasanya sah karena pada hari itu mereka sudah wajib berpuasa. Kondisi ini mirip dengan orang junub sebelum fajar maka puasanya sah berdasar firman Allah:

فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ

مِنَ الْفَجْرِ

”Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. (Al-Baqarah: 187)

Bila Allah mengizinkan berjimak sampai waktu fajar, konsekwensinya mandinya setelah fajar. Terdapat pula hadist dari ibunda Aisyah radhiyallahu anha, ”Sesungguhnya Nabi shalallahu alaihi wassalam junub saat subuh setelah menggauli istrinya dan beliau tetap berpuasa pada hari itu”. Maksudnya, Nabi shalallahu alaihi wassalam tidak mandi besar kecuali setelah terbit fajar.

Hukum Puasa Saat Merasa Haid Hendak Keluar

Jika wanita merasa akan keluar darah haid tapi darah itu ternyata baru keluar setelah waktu berbuka, atau ia merasa sakit pertanda haid tetapi darah belum keluar, apakah puasanya pada hari itu sah atau dia wajib mengganti?

Jawaban

Saat wanita merasa akan datang haid dalam keadaan berpuasa tetapi darahanya keluar setelah waktu berbuka, atau dia merasa sakit pertanda haid tetapi darah tidak keluar sampai waktu berbuka maka puasanya sah. Dia tidak perlu mengganti puasa ramadhan. Bila ia sedang mengerjakan puasa sunnah, pahalanya tidak batal.

Melihat Darah di Siang Ramadhan Tapi Tidak Yakin Darah Haid

Jika wanita melihat darah di siang hari bulan ramadhan tapi tidak yakin itu darah haid, apakah hukum puasanya pada hari itu?

Jawaban

Puasanya pada hari itu sah. Karena hukum asal adalah suci sampai terang baginya haid.

Hukum Flek Saat Puasa

Terkadang wanita menjumpai lendir atau flek dalam aktivitas kesehariannya. Kadang ia melihatnya saat memasuki waktu siklus haidnya tetapi darah haid belum ada, dan kadang ia melihat di luar siklus haidnya. Apa hukum puasanya dalam kedua kasus tersebut?

Jawaban

Jawaban lebih detil akan kami sampaikan pada pertanyaan selanjutnya. Ringkasnya, jika flek tersebut tampak dalam masa siklus haidnya dan dia yakin itu darah haid maka dia haid.

Makan Minum Bagi Wanita Haid dan Nifas di Siang Ramadhan

Apakah wanita haid dan nifas boleh makan minum siang hari bulan ramadhan?

Jawaban

Iya, dia boleh makan minum tetapi lebih baik sembunyi-sembunyi. Karena jika dilihat anak-anak di rumah akan menimbulkan masalah bagi mereka.

Hukum Puasa Wanita Keguguran

Wanita yang mengalami keguguran tidak lepas dari dua kondisi: keguguran sebelum janin terbentuk atau setelah janin berbentuk. Bagaimana hukum puasa pada hari itu dan puasanya saat darah masih keluar?

Jawaban

Jika janin belum berbentuk maka darah yang keluar bukan darah nifas. Dia wajib terus berpuasa serta shalat dan puasanya sah. Jika janin telah terbentuk maka darahnya darah nifas tidak boleh baginya shalat dan puasa.

Kaedah dalam permasalahan ini jika janin telah berbentuk maka itu darah nifas. Jika darah nifas dia terkena larangan sebagaimana larangan bagi wanita nifas. Jika bukan darah nifas maka larangan nifas tidak berlaku padanya.

Hukum Puasa Wanita Hamil Keluar Darah

Darah keluar dari wanita hamil di siang hari ramadhan apakah puasanya sah?

Jawaban

Jika darah haid keluar di siang hari saat puasa menjadikan puasanya rusak berdasar sabda Nabi shalallahu alaihi wassalam: ”Bukankah jika haid tidak boleh shalat dan puasa”.

Atas dalil ini haid termasuk hal-hal yang membatalkan puasa, begitu pula nifas. Keluarnya darah haid dan nifas membatalkan puasa.

Kemudian, bila keluarnya darah pada wanita hamil di siang hari bulan ramadhan dan itu darah haid berarti hukumnya sama dengan darah haid yang keluar diluar kehamilan yang dapat membatalkan puasanya. Namun jika itu bukan darah haid maka puasanya sah.

Haid yang memungkinkan terjadi pada wanita hamil adalah haid yang datang pada siklus kebiasaan haid dan tidak berhenti walau dia telah hamil. Berdasar pendapat yang paling rajih, bila wanita hamil terus mendapatkan haid pada siklus kebiasaanya ini adalah haid yang mengikuti ketentuan hukum haid.

Tetapi jika saat dia hamil haidnya terhenti kemudian pada suatu masa dia melihat darah yang tidak biasa seperti darah haid maka itu bukan haid serta tidak mempengaruhi puasa dan puasanya sah.

Hukum Mengganti Puasa Setelah Lewat Ramadhan Berikut

Seorang wanita tidak berpuasa selama tujuh hari karena nifas. Setelah selesai ramadhan ia belum menggantinya sampai menjelang kedatangan ramadhan kedua. Saat ia hendak menggantinya ia sakit dan tidak mampu berpuasa hingga masuklah bulan ramadhan ke dua. Bagaimana hukumnya sedangkan tahun itu sudah memasuki tahun ramadhan ke tiga? Berilah petunjuk pada kami semoga Allah memberimu pahala.

Jawaban

Jika kasusnya seperti yang anda sebutkan bahwa wanita ini tidak mampu mengganti karena sakit maka kapan dia mampu mengganti puasanya hendaklah mengganti. Sebab dia terkena udzur meski telah datang ramadhan kedua. Namun jika dia tidak mengganti tanpa udzur tapi karena mengundur-undur tidak boleh baginya mengganti puasa sampai lewat ramadhan berikutnya.

Aisyah radhiyallahu anha berkata: ”Saya pernah tidak berpuasa dan baru mampu menggantinya pada bulan syaban”.

Atas kasus ini, wanita tersebut seyogyanya intropeksi diri. Hendaknya bertaubat bila tidak mengganti tanpa udzur karena itu perbuatan dosa dan segeralah mengganti puasanya. Tetapi jika memang disebabkan adanya udzur tidak mengapa baginya meski terlambat mengganti pada ramadhan kedua dan ketiga.

Kewajiban Bagi Wanita yang Terlambat Mengganti Hutang Puasa

Wanita belum mengganti puasanya hingga memasuki ramadhan kedua, apa kewajiban baginya?

Jawaban

Wajib baginya bertaubat kepada Allah karena tidak boleh dia mengganti puasa hingga lewat ramadhan setelahnya tanpa udzur. Dalilnya hadits Aisyah radhiyallahu anha berkata: ”Saya pernah tidak berpuasa dan baru mampu menggantinya pada bulan syaban”.

Hadits ini menunjukkan tidak boleh mengganti puasa hingga lewat tahun ramadhan setelahnya. Bila demikian ia harus bertaubat kepada Allah lalu segera mengganti puasanya.

Hukum Puasa dan Shalat Saat Keluar Darah Satu atau Dua Hari Sebelum Melahirkan

Seorang wanita hamil melihat darah satu atau dua hari sebelum melahirkan, apakah dia harus meninggalkan puasa dan shalat?

Jawaban

Jika wanita hamil satu atau dua hari sebelum melahirkan menjumpai darah saat sudah masuk tahap pembukaan melahirkan maka darah itu nifas wajib meninggalkan shalat dan puasa. Namun jika belum ada pembukaan, darahnya itu darah luka tidak menghalanginya untuk shalat.

Keguguran Saat Puasa, Apakah Membatalkan Atau Meneruskan Puasa

Wanita hamil muda mengalami kecelakaan yang menyebabkan keguguran dengan pendarahan. Apakah sebaiknya ia membatalkan puasanya atau meneruskan. Jika dia membatalkan puasanya apakah berdosa?

Jawaban

Kami tegaskan, wanita saat ia hamil akan terhenti dari haid seperti perkataan Imam Ahmad, ”Kehamilan dapat diketahui dari terputusnya haid”.

Ilmuwan menjelaskan, Allah menciptakan haid untuk suatu manfaat yaitu, sebagai sumber nutrisi bagi janin. Saat terjadi kehamilan, haid otomatis terhenti.

Tetapi sebagian wanita tetap mendapatkan haid di siklus periodenya padahal telah hamil. Jika terjadi kasus seperti ini haidnya dihukumi shahih, karena haidnya terus berlanjut sejak pertama kali kehamilan dan tidak mempengaruhi kehamilan. Haid seperti ini tetap terkena larangan-larangan bagi wanita haid, mengharuskan apa yang menjadi ketetapan keharusannya dan menggugurkan kewajiban yang digugurkan oleh wanita haid.

Dari penjelasan diatas, ada dua macam darah yang keluar dari wanita hamil:

  1. Dihukumi darah haid dengan syarat haidnya tidak terputus sejak pertama kali terjadi kehamilan. Artinya, kehamilan tidak menyebabkan berhentinya haid, maka itu darah haid.
  2. Darah keluar disebabkan insiden seperti terlalu berat mengangkat beban, terjatuh atau semisalnya maka darah yang keluar bukan darah haid tetapi darah akibat luka. Tidak ada larangan baginya untuk tidak shalat dan puasa. Dia dihukumi tetap suci.

Kemudian wanita yang mengalami keguguran dan pendarahan akibat suatu kecelakan, para ulama membagi hukumnya menjadi dua:

  1. Bila janin sudah nyata berbentuk manusia maka darah yang keluar adalah darah nifas. Dia harus tinggalkan shalat, puasa dan suaminya harus menjauhinya sampai suci.
  2. Jika janin gugur dan belum berbentuk manusia maka itu bukan darah nifas tapi darah rusak yang tidak menghalanginya dari shalat, puasa dan lainnya.

Para ulama berpendapat mengenai kapan janin dalam perut ibu berbentuk manusia. Mereka mengatakan, janin berbentuk manusia setidaknya pada usia 81 hari. Hal ini didasarkan pada hadits dari Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu bahwa ”Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

‘Sesungguhnya kalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama 40 hari, kemudian menjadi alaqah (morula) selama itu pula, kemudian menjadi mudhgah (segumpal daging) selama itu pula. Kemudian Allah mengutus padanya malaikat dan diperintahkan dengan empat perkara, yaitu rizkinya, ajalnya, amalnya, bernasib sengsara atau bahagia”.

Atas dasar ini tidak mungkin janin berbentuk manusia sebelum usia tersebut dan umumnya menurut ahli kandungan, janin tidak dapat terlihat jelas sebelum usia 90 hari.

Lupa Jumlah Hutang Puasa

Seorang wanita mengadukan permasalahnya, bahwasanya ia berpuasa semenjak wajib baginya berpuasa ramadhan setelah bersih haid. Tetapi ia tidak mengganti puasa yang ia tinggalkan saat haid karena tidak mengetahui jumlah hari yang ia tinggalkan. Maka ia memohon petunjuk apa yang harus ia lakukan sekarang.

Jawaban

Sangat disayangkan kasus seperti ini terjadi pada wanita beriman. Kelalaiannya untuk menghitung hari-hari haid saat puasa ramadhan menyebabkan dia tidak membayar kewajiban hutang puasanya entah karena ketidaktahuan atau kelalaian dan semuanya itu musibah.

Obat ketidaktahuan adalah ilmu dan bertanya, sedang kecerobohan obatnya takwa kepada Allah, mendekatkan diri pada-Nya, merasa takut dari siksa dan bersegera menggapai ridha-Nya. Hendaklah bagi wanita seperti ini bertaubat kepada Allah dan beristighfar. Dia harus mengganti hari-hari yang ditinggalkannya dengan cara memperkirakan semampunya. Semoga Allah menerima taubatnya.

Hukum Puasa Wanita yang Mengalami Pendarahan

Seseorang bertanya: Ibu saya berumur 65 tahun, selama 19 tahun ini tidak memiliki anak lagi. Selama tiga tahun terakhir mengalami pendarahan yang tampaknya karena suatu penyakit. Karena sebentar lagi akan memasuki bulan puasa, mohon nasihat anda untuk ibu saya dan apa yang harus ia lakukan.

Jawaban

Wanita seperti ini yang menderita pendarahan, hukumnya yaitu tidak puasa dan shalat pada hari-hari siklus kebiasaan haidnya yang lalu.

Jika menurut siklus kebiasaanya haidnya datang diawal bulan, umpamanya selama enam hari, berarti dia setiap awal bulan selama enam hari itu tidak shalat dan puasa. Setelah memasuki hari ke tujuh ia mandi kemudian shalat dan puasa.

Adapun tata cara shalat dalam kasus seperti ini, hendaknya ia membersihakan kemaluannya secara sempurna, kemudian memakai pembalut lalu berwudhu. Lakukan seperti ini setiap masuk waktu shalat untuk melaksanakan shalat fardhu. Begitu pula lakukan hal seperti ini jika ia akan mengerjakan shalat sunnah diluar waktu shalat fardhu.

Dalam konsisi seperti ini karena pertimbangan kesulitan yang dihadapi, diperkenankan menjamak shalat dhuhur dengan asar dan maghrib dengan isya. Caranya shalat dhuhur dan asar dalam satu waktu, shalat mahgrib dan isya dalam satu waktu dan shalat subuh dalam satu waktu. Jadi dia kerjakan hal ini selama tiga waktu daripada melakukannya sebanyak lima waktu.

Saya tekankan kembali, saat hendak berwudhu pertama kali ia harus mencuci kemaluannya, lalu menggunakan pembalut kain atau sejenisnya untuk menahan agar darah tidak menetes keluar. Kemudian dia berwudhu dan shalat.

Kerjakan shalat dhuhur empat rakaat, shalat asar empat rakaat, shalat maghrib tiga rakaat, shalat isya empat rakaat dan shalat subuh dua rakaat. Rakaat shalat ini tidak boleh di qashar (diringkas) seperti sangkaan sebagian masyarakat. Yang diperbolehkan hanya dijamak yaitu shalat dhuhur dengan asar, shalat mahrib dengan isya.

Boleh mengerjakan jamak dhuhur dan asar secara jamak takdim atau jamak takhir. Begipula dengan menjamak shalat magrib dan isya secara jamak takdim atau jamak takhir. Tidak mengapa baginya mengerjakan shalat sunah dengan wudhu tersebut.