Ditemukan Kemoterapi Pengobatan Kanker Serviks dengan Menggunakan Sperma

Ilmuwan tengah mengembangkan cara baru untuk mengobati kanker serviks yaitu dengan menggunakan sel sperma sebagai media pengantar obat kemo pada sel kanker yang dituju. Selama ini pengobatan kanker serviks dengan tindakan operasi, radioterapi atau kemoterapi. Banyak kisah duka dalam pengobatan standar ini.

Metode obat kemo selama ini bisa merusak sel normal yang masih sehat padahal seharusnya yang dituju sel kankernya saja. Sel normal rusak bersamaan dengan penghancuran sel kanker yang menyebabkan efek samping seperti kelelahan ekstrem, mual muntah, stres dan sebagainya. Sehingga dokter kemudian membatasi dosis yang dapat diterima pasien.

Melalui bantuan sperma, diharapkan tidak merusak sel sehat sekitarnya. Hal ini karena sel sperma dirancang untuk mengangkut obat dan menempelkannya pada sel kanker sehingga tepat sasaran.

Dalam Jurnal Ilmiah ACS Nano dikatakan, sel sperma memiliki kemampuan enkapsulasi obat yang tinggi dan stabil sehingga meminimalkan efek samping beracun dan akumulasi obat yang tidak dikehendaki pada jaringan sehat.

Pada percobaan itu, tim peneliti mengisi sel sperma dengan doksorubisin, yaitu obat kemo yang berisi bakteri antibiotik kanker. Selanjutnya sperma ditempatkan dalam piring yang mengandung tumor kanker serviks. Hasilnya mengagumkan, dalam tiga hari, sperma telah menargetkan tumor dan membunuh 87 persen sel kanker.

Setelah berhasil, tim lalu menempatkan sel sperma dalam empat pita magnetik yang disebut mikromotor biohibrid, sebuah motor kapsul pengangkut seperma. Motor tersebut dikendalikan menuju target dan menabrakkannya. Saat perangkat itu menabrak tumor, segera melepaskan sperma yang langsung berenang menembus ke dalam tumor dan melepaskan obat tepat pada sasaran.

Kendati terdengar menakjubkan, teknologi tersebut masih belum siap untuk diimplementasikan pada manusia. Saat ini, robot sperma itu baru dalam tahap percobaan di laboratorium dan masih diperlukan riset lebih banyak lagi sebelum bisa diaplikasikan.

Peneliti masih belum bisa memecahkan bagaimana membuat mikromotor yang aman bagi tubuh, atau bagaimana cara mengeluarkannya. Selain itu, satu motor hanya bisa mengantarkan satu sel sperma pada satu tumor saja. Padahal bisa jadi memerlukan dosis yang lebih untuk pengobatan yang efektif.

Belum lagi soal bagaimana hukum dalam fiqih Islam atas penggunaan sperma tersebut belum lagi resiko kegagalan. Misalnya justru mikromotor tersebut kecelakaan dan menembus ke sel telur, atau sel sperma lepas di perjalanan dan malahan lurus ke sel telur sehingga terjadi kehamilan.

Jika seandainya bisa diimplementasikan dan secara fiqih misalnya diperbolehkan, pasti harga terapi ini sangat mahal. Karena kita harus membeli robot mikro tersebut untuk sekali pengangkutan satu obat.

Langkah paling bijak, preventif. Melakukan pencegahan sejak dini diantaranya dengan meninggalkan pembalut kimiawi beralih menggunakan pembalut kain.