4 Tips Memilih Pembalut yang Aman Menurut Dokter

Pembalut yang Aman

Memilih pembalut tidak sesederhana membelinya. Ini soal masa depan kita sebagai perempuan yang sempurna. Dulu, kita tidak peduli karena minimnya informasi serta belenggu ekonomi kapitalisme yang mencengkram kuat.

Bahagialah karena saat ini, kita mulai melek dengan keamanan pembalut. Terlebih setelah Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) secara berani mengumumkan pembalut berklorin yang mengejutkan banyak pihak.

Saat kita mulai sadar dibalik manfaat pembalut tersemat bahaya nyata, tiba-tiba Kemenkes sebagai representasi lembaga kesehatan nomor wahid malahan membantah temuan YLKI. Lembaga yang bertanggungjawab atas kesehatan rakyat Indonesia ini menegaskan, proses produksi semua merek pembalut sudah sesuai standar klasifikasi Badan Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA).

Padahal, dalam regulasi yang dibuat oleh Kemenkes disebutkan klorin merupakan zat berbahaya karena beracun dan iritatif. Jadi, sebagian kita dibuat sedikit “mumet” atas simpang siur informasi tersebut. Siapa yang benar yah!

Di artikel ini, saya akan memberikan tulisan mengenai memilih pembalut yang aman menurut para ahli. Yuk, sista baca sampai akhir.

1 Jangan Pilih Pembalut dari Proses Daur Ulang

Pembalut wanita buatan pabrik merupakan pembalut sekali pakai. Produsen membuatnya dengan bahan baku kertas bekas atau serbuk kayu (pulp) sebagai bahan dasar. Itulah mengapa harga pembalut sangat murah.

Dalam proses daur ulang pastinya banyak bahan-bahan kimia yang digunakan, terutama pada proses pemutihan (bleaching) dan pembuangan bau.

Limbah serbuk kayu bahan dasar pembalut sekali pakai

Setidaknya ada dua metode pemutihan bahan baku dasar pembalut yang sering digunakan:

  1. Metode gas klorin.
  2. Metode Elemental Chlorine Free (ECF).

Metode pertama dengan gas klorin ini yang paling dikritisi karena dampaknya pada kesehatan. Karena dalam proses tersebut menimbulkan senyawa baru berbahaya yang disebut dioksin.

Apa itu dioksin?

Sederhananya, dioksin adalah salah satu dari ratusan senyawa kimia beracun yang larut dalam lemat dan sangat stabil di lingkungan. Sehingga bakteri tidak bisa mengurainya.

Dioksin timbul dari hasil sampingan proses industri yang terbentuk oleh pembakaran senyawa kimia yang mengandung klorin. Dioksin merupakan salah satu pemicu kanker dewasa ini.

Karena metode gas klorin memicu kontroversi, diciptakanlah metode ECF yang merupakan cara pemutihan lebih modern menggunakan klorin diaksoda. Teknik ini dikatakan lebih aman dari model gas klorin.

Wikipedia menyebut klorin diaksoda hanya meminimalkan timbulnya dioksin hasil senyawa organoklorin saat proses pemutihan. Meski diakui tidak bisa bebas 100% dari dioksin, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menjamin metode ini aman digunakan bagi kesehatan.

FDA tidak yakin jumlah dioksin dalam tingkat rendah dapat membahayakan bagi tubuh. Menurut lembaga ini kadar dioksin dalam tingkat rendah prakteknya dianggap bebas dari dioksin.

Pernyataan FDA itu kontrakif.

Wajar saja jika statemen yang membingungkan tersebut menimbulkan banyak kritikan. Salah satunya oleh Dr. Carolyn DeMarco dari Kolombia yang mempertanyakan standar yang digunakan FDA saat menyatakan: dioksin dalam tingkat rendah berarti bebas dioksin.

2 Jangan Pilih Pembalut Mengandung Pestisida

Andai dioksin benar-benar bisa dinihilkan dalam metode pemutihan mutakhir ECF ini, masalah lain muncul. Klorin diaksoda dan gas klorin adalah dua bahan kimia yang berbeda yang bereaksi secara berbeda tapi menghasilkan produk yang memiliki sedikit kesamaan.

Klorin diaksoda adalah pestisida antimikroba yang telah digunakan sebagai disinfektan sejak awal 1900-an. Mikroba dibunuh oleh klorin diaksoda melalui gangguan nutrisi di dinding sel.

Bahan ini merupakan salah satu pestisida yang digunakan oleh Amerika Serikat sebagai dekontaminasi bangunan pasca serangan diaspora anthrax pada Oktober 2001.

Pemerintah Amerika juga menggunakannya untuk membasmi jamur berbahaya yang terdapat pada hunian yang terendam banjir akibat badai Katrina di New Orleans, Louisiana dan sekitarnya.

Klorin diaksoda digunakan untuk dekontaminasi anthrax

Jadi, mungkin saja residu dioksin tidak lagi berpotensi menjadi masalah, tapi muncul residu pestisida sebagai masalah baru.

Apakah Residu Klorin Dioksida Berbahaya?

Sampai saat ini tidak ada yang tahu pasti. Satu hal yang perlu diperhatikan, klorin dioksin itu sendiri adalah racun yang memiliki efek negatif jangka panjang.

Artinya, baik proses pemutihan pembalut menggunakan metode gas klorin atau metode klorin diaksoda terdapat proses kimiawi yang tetap berbahaya bagi tubuh dalam jangka panjang.

3 Jangan Terjebak Marketing

Kaum hawa itu mudah sekali terbuai dengan rayuan marketing yang aduhai. Kelemahan ini dimengerti benar oleh produsen pembalut dengan menciptakan iklan yang menarik.

Mereka juga menggunakan berbagai macam istilah WOW! seperti:

  • Lapisan Biru Penyerap Super.
  • Saluran Anti Bocor.
  • Soft Cottony Cover.
  • Proactive Guard Technology.
  • Bantalan elastis yang mencegah pembalut berkerut.
  • Double Block Line.
  • Anti Bakteri, Anti Dioksin.
  • Mengandung herbal.
  • Pewangi tak berbahaya.
  • Infinity Lock System.
  • Micro-Dri Cover.
  • Absord Core.

Banyak produsen pembalut sekali pakai tidak transparan menginformasikan bahan pembalut dan bagaimana pembalut itu dibuat. Siapapun tidak akan mengerti dari bahan apa lapisan biru yang bisa melakukan penyerapan super. Atau apa sih itu Proactive Guard Technology?

Bahan katun yang disebutkan dengan istilah Soft Cottony Cover masih dipertanyakan kadar katunnya. Jadi semuanya serba tanda tanya.

Dengan penjelasan-penjelasan tersebut, sepertinya pembalut sekali pakai dibuat dengan cara yang rumit, cermat dan sehat karena berteknologi tinggi. Sehingga konsumen yakin untuk membeli dan memakainya.

Lalu Apa Tanggapan Dokter?

Menurut dr Rachmad Poedyo Armanto SpOG, tak perlu menggunakan pembalut khusus dengan embel-embel tambahan bahan anti bakteri, anti dioksin atau herbal. Sebab darah haid yang keluar terdapat kuman flora yang mempertahankan keasaman vagina.

Menurutnya, anti bakteri yang terdapat pada pembalut hanya bekerja di daerah kemaluan. Tidak sampai masuk ke liang vagina. Jadi hanya sia-sia menggunakan pembalut tersebut.

Senada dengan dr Rachmad, dr Ifzal Asril, SpOG dari RSIA Hermina Jakarta mengatakan pembalut dengan anti bakteri atau pewangi terlalu berlebihan. Karena tidak ada efeknya sama sekali.

Kalau embel-embel canggih tersebut tidak diperlukan untuk menampung haid, terus apa yang penting dari pembalut? Tentunya fungsi dan durasi mengganti pembalut.

dr Rachmad menyatakan, terpenting bagi pembalut adalah fungsi yang dapat menyerap darah haid. Itu terpenuhi ketika pembalut sering diganti.

4 Pilih Pembalut Kain

Berbagai pembalut sekali pakai dengan seabrek teknologi canggih yang disematkan fungsinya hanya untuk menyerap haid. Jadi kalau anda menggunakan bahan alami seperti kapas atau kain jika memiliki fungsi yang sama maka disebut pembalut yang baik.

Hanya masalahnya, pembalut sekali pakai menggunakan bahan dasar limbah yang diproses secara kimiawi sehingga menimbulkan kekhawatiran dampak kesehatan. Meski banyak kasus, produsen berdalih telah mendapatkan Ijin Edar Departemen Kesehatan dan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Tetapi fakta yang diungkap oleh YLKI mengharuskan kita secara pribadi kritis dan berhati-hati pada pembalut sekali pakai yang beredar. Meski sudah mendapatkan izin dari pihak terkait. Ingat ini demi kesehatan kita sendiri.

Saat itu YLKI dan Kemenkes sempat bersiteru karena Kemenkes membantah hasil penelitian YLKI. Kemenkes beralasan, semua proses produksi pembalut susai standar klasifikasi Badan Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA).

Padahal Kemenkes sudah memiliki regulasi yang menyatakan bahwa klorin merupakan zat berbahaya karena beracun dan iritatif. Kebijakan yang ditabrak sendiri.

Situs kesehatan terpercaya WebMD pernah mengangkat pernyataan dari Philip Tierno, Jr., PhD profesor mikrobiologi dan patologi di NYU School of Medicine sebagai berikut:

“Wanita menganggap FDA atau badan lainnya telah meneliti soal ini bahwa produk apa saja yang beredar di pasar adalah aman digunakan. Saya katakan, itu tidak benar.”

Linda Birnbaum, PhD direktur Institut Nasional Ilmu Kesehatan Lingkungan dan Program Toksikologi Nasional AS mengkritisi kurangnya informasi yang diberikan oleh produsen pembalut.

Jadi kalau pembalut kain yang lebih tradisional berfungi sama dengan pembalut sekali pakai yang modern yang diragukan kesehatannya, mengapa tidak kembali menggunakan pembalut kain seperti saran YLKI:

“Zat klorin tidak ditemukan dalam pembalut kain. Selain itu, pembalut kain juga bisa dipakai ulang dan dicuci kembali. Tingkat keamanannya jangka panjang.” (Tulus Abadi Ketua Harian YLKI).

Dr Putu Laksmi Anggari Putri Duarsa, SpKK juga menyarankan hal yang sama untuk menggunakan pembalut kain karena jauh lebih aman:

“Karena pada pembalut kain kita sendiri yang menyuci, jadi kita tahu apa yang kita pakai. Seperti halnya kita mangonsumsi makanan di rumah dengan makanan jajanan. Kita tidak tahu pakai MSG atau tidak.”

Toh saat ini, pembalut kain yang beredar sudah dirakit secara modern dan lebih ekonomis. Tinggal kita pandai-pandai memilih yang kualitasnya bagus, mudah dicuci, mudah dipakai dan antibocor.

Download Versi PDF

Artikel ini bisa juga sista dibaca dalam versi e-book. Saya sudah menkonversinya dalam versi PDF dengan desain yang cantik dan menarik.

Klik tautan download di bawah ini untuk mengunduhnya.

Artikel Terkait