2017, Kanker Serviks Masih Menjadi Pembunuh Nomor Satu Bagi Perempuan

Sepanjang 2017 lalu, sebanyak 1.486 warga yang mengidap kanker serviks. Mayoritas mereka terlambat menyadari mengidap penyakit itu sehingga nyawanya sulit terselamatkan.

Luna (nama samaran), 39, warga Kecamatan Klojen, Kota Malang, itu tak menyangka bahwa rasa sakit setiap berhubungan dengan suaminya itu adalah gejala kanker serviks.

Sebagai ibu rumah tangga yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, Luna mengira itu adalah sakit biasa. Penanganannya pun biasa. Pergi ke dokter dan meminta obat nyeri.

”Saya cuma datang ke dokter biasalah. Minta obat nyeri,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin (13/4).

Bahkan, ketika (maaf) kemaluannya berdarah ketika berhubungan dengan suaminya, Luna juga tidak curiga bahwa dia mengidap kanker serviks. Padahal, haidnya tidak teratur dan sering kali terasa sakit. Luna merasa dia hanya sakit biasa.

Karena berbulan-bulan sakitnya tidak kunjung sembuh, Luna curhat kepada kerabatnya. Oleh kerabatnya yang masih satu kampung itu, Luna disarankan memeriksakan diri ke salah satu rumah sakit (RS) ternama di Kota Malang.

Tapi, ibu satu anak itu syok ketika dokter memvonisnya mengidap kanker serviks. Bahkan, penyakitnya sudah stadium II B. Pikirannya pun terguncang. Kanker yang merenggut nyawa artis Julia Perez alias Jupe itu telah menjangkitinya.

Dibantu kerabatnya, Luna searching tentang penyakit kanker serviks di internet. Mulai dari gejala-gelaja hingga sistem penularannya. Ketika itulah dia baru sadar telah tertular suaminya yang kesehariannya menjadi sopir. Menurut Luna, suaminya sering ”jajan” di luar.

”Ngenes. Saya ini orang bodoh. Saya gak kuat kalau terus-terusan berobat,” keluh perempuan yang kini menjanda itu.

Luna adalah satu di antara ribuan perempuan yang mengidap kanker serviks. Sesuai data di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA), sepanjang 2017 terdapat 1.486 pasien kanker serviks. Penyakit yang dikenal sebagai pembunuh perempuan nomor satu itu jumlahnya tertinggi jika dibanding penyakit lain yang kerap menyerang perempuan.

Setelah kanker serviks, baru diikuti penyakit ganas lainnya. Seperti kanker payudara ada 1.328 pasien dan di urutan ketiga kanker rahim sebanyak 1.240 penderita.

Apa penyebab terjangkitnya kanker serviks? Spesialis obstetri dan ginekologi dr Yahya Irwanto SpOG (K) Onk menyatakan, selama ini ada anggapan yang salah tentang kanker serviks. Yahya mengetahui, banyak yang menganggap bahwa kanker serviks akibat perempuan tidak bisa menjaga kebersihan daerah vital maupun pola makan yang salah.

Menurut Yahya, penyebab utama kanker serviks adalah hubungan seksual multi partner atau gonta-ganti pasangan. ”Penyakit yang disebabkan virus human papilloma virus (HPV) tersebut mudah sekali ditularkan,” katanya.

”Suaminya melakukan hubungan seks dengan banyak perempuan, tapi istrinya enggak. Ya, tetap saja berimbas kepada istrinya,” tambahnya.

Yahya menjelaskan, pria hanya menularkan virus HPV kepada perempuan karena pria tidak memiliki spot yang pas untuk virus berkembang. Meski berbahaya, Yahya menyatakan, potensi penyembuhannya lebih besar jika ditangani secara cepat. Sebab, pengembangan virus HPV tergolong lambat. Setidaknya butuh waktu 10 tahun untuk menjadi kanker.

”Misal usia 29 tahun ketahuan ada kanker serviks, maka sudah terindikasi sejak usianya masih 19 tahun,” ujar alumnus Universitas Brawijaya (UB) itu.

Mengingat pengembangan virusnya lama, Yahya menyarankan pentingnya melakukan pencegahan. Dia menyebut, ada tiga tahap pencegahan. Yakni, primer, skunder, dan tersier. Pada tahapan primer, pencegahannya bisa dilakukan dengan menghindari hubungan seksual gonta-ganti pasangan.

”Agar virus ini tidak masuk ke dalam tubuh, ada baiknya setia saja kepada pasangan,” tutur dokter yang sudah 20 tahun bertugas di RSSA itu.

Tindakan primer lain adalah melaksanakan vaksin. Virus HPV tidak bisa membuat kekebalan alami. Yahya memberikan contoh jika seseorang terkena flu, otomatis tubuhnya membentuk antibodi. Maka sering ada banyak orang yang bisa sembuh flunya meski perawatannya minim. Tapi jika terjangkit HPV, tubuh pengidap penyakit itu tidak bisa membentuk kekebalan secara alami.

”Manfaat vaksin ini kalau disuntikkan bisa membentuk antibodi yang bisa membunuh virus. Atau jika ada virus yang masuk dan divaksin bisa langsung mati,” jelasnya.

Yahya menerangkan, vaksin bisa saja diberikan kepada semua perempuan. Tapi, lebih efektif disuntikkan kepada perempuan yang belum menikah. Misalnya mulai divaksin sejak usia 11 tahun.

”Meski tidak ada jaminan mulai kapan perempuan berhubungan seksual, tapi sebaiknya diberikan sebelum menikah,” ucapnya.

Lantas, bagaimana dengan pencegahan sekundernya? Menurut Yahya, pada tahapan sekunder ini, virus sudah masuk ke dalam tubuh. Tapi, belum menjadi kanker. ”Pencegahannya bisa melalui pap smear atau melalui tes inspeksi visual asam asetat (IVA),” kata dia.

Sementara itu, manfaat pap smear untuk mengidentifikasi virus sebelum menjadi kanker. Pada tahapan prakanker, penanganannya melalui cryotherapy (pengobatan menggunakan es sebagai media), loop electrosurgical excision procedure (pengobatan menggunakan kawat yang dialiri listrik), dan konisasi (cara mengangkat jaringan yang mengandung selaput lendir serviks hingga kelenjarnya).

Sementara untuk tahapan tersier, fokusnya pada pengobatan. Yahya memaparkan, ada dua tahap pengobatan. Tahap pertama pada stadium I dan II A. Tahapan kedua, stadium II B hingga IV.

”Penanganannya ada tiga cara. Bisa melalui operasi, radiasi, maupun kemoterapi,” ucap Yahya.

Pada kanker stadium I hingga II A, menurut Yahya, bisa sembuh dengan jalan operasi. Sementara kanker stadium lanjut, seperti II B hingga IV hanya bisa disembuhkan dengan radiasi dan kemoterapi. Semakin tinggi stadium kanker, peluang sembuhnya semakin sedikit.

Bagi penderita stadium I dan II A, angka harapan hidupnya hingga 80 persen. Dengan kata lain, dari 10 pengidap yang berobat, sekitar 8 pasien memiliki harapan sembuh.

Berbeda dengan stadium lanjut II B hingga III, angka harapan hidupnya hanya 50 persen. Dari 10 orang penderita kanker ada lima orang yang bisa mati karena kanker.

Sementara untuk stadium IV B, angka harapan hidupnya hanya 20 persen, artinya bisa jadi yang hidup hanya dua pasien.

”Yang datang ke RSSA 80 persen sudah stadium lanjut (stadium antara III–IV) dan hanya bisa diobati dari kemoterapi serta radiasi,” tandas Yahya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Malang Asih Tri Rachmi menyatakan, pihaknya juga fokus meminimalisasi jumlah pengidap kanker serviks. Sebab, jumlahnya di Kota Malang sangat tinggi.

”Kanker serviks ini menjadi pekerjaan rumah (PR) dinkes,” kata Asih.

Menurut Asih, upaya pencegahan yang efektif dilakukan adalah pemberian vaksin. Tapi, pihaknya terkendala besarnya biaya yang dibutuhkan. ”Pemkot belum bisa memberi imunisasi karena mahal biayanya,” jelas dia.

Asih tidak hafal berapa biayanya. Namun, diperkirakan Rp 1,9 juta untuk tiga kali vaksin. Ada juga yang menyebut Rp 3,3 juta. ”Imunisasi itu untuk remaja putri yang belum berhubungan badan. Kalau yang sudah pernah, ya vaksin papilloma,” terangnya.

”Saat ini dinkes hanya mengupayakan pencegahan dengan tes inspeksi visual asam asetat (IVA) di puskesmas-puskesmas,” tambah mantan kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Malang itu.

Sumber: radarmalang.id